SEJARAH DESA

ASAL USUL DESA KERTOSARI
KECAMATAN ULUJAMI
KABUPATEN PEMALANG

Oleh : Johani

Kata Pengantar

Assalamu’alaikum W. W.
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas nikmat yang dibeikan kepada kami sehingga dapat menyusun tulisan ini.
Sebelum menyusun tulisan ini kami telah mengumpulkan data dari berbagai sumber yang dapat dipercaya untuk memberikan keterangan berdasarkan pengalaman yang telah diingat dan dialaminya.
Ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan tulisan ini.
Tulisan ini kami susun tidak lain hanya untuk mengetahui sekilas perjalanan para pendahulu yang sudah banyak memberikan sumbangsih kepada kami sebagai generasi penerus. Tentunya masih banyak kekurangan dan jauh dari harapan, namun paling tidak dengan tulisan ini bisa memberi kesan tersendiri bagi pembaca terutama generasi muda Desa Kertosari. Kritik dan saran sangat kami harapkan demi kesempunaan tulisan ini, semoga bermanfaat.
Wassalamu’aalaikum W. W.

Kertosari, 16 Juni 2012
Penulis

BAB II

2.1 Kondisi Desa
2.1.1 Sejarah Desa

DesaKertosari berasal dari gabungan desa Selumbung dan desa Opok. Nama Kertosari dikenal sekitar tahun 1900an, Kertosari berasal dari kata Kerto dan Sari, Kerto artinya Tertata dan Sari artinya tepung (pati). Jadi desa Kertosari mempunyai arti desa yang terbentuk dari tertatanya / kemakmuran penduduk yang bersumber dari hasil padi yang melimpah ruah sehingga waktu itu hasil padinya dapat menopang kebutuhan hidup sehari-hari tanpa harus membeli padi dari desa lain, karena 75 % wilayahn Kertosari terdiri dari sawah yang membujur di sebelah barat dan timur desa dari ujung selatan hingga pantai.
Dulu desa Kertosari dikenal orang dengan Desa Selumbung (wilayah selatan) dan Desa Opok (wilayah utara), kedua desa itu dibatasi dukuh Blendung Wetan.

A. Asal Mula Nama Selumbung

Selumbung berasal dari kata ‘Lumbung”
Seperti dijelaskan di atas bahwa tanah di Desa Selumbung sangat subur tidak hanya sawahnya saja tanah daratnyapun sangat subur dan sebagai penghasil padi sehingga banyak didatangi berbagai macam burung pemakan padi. Karena tanahnya subur hingga pepohonan yang tumbuh di desa itu juga rimbun dan besar-besar. Konon waktu itu di tengah-tengah desa tumbuh pohon Kecacil yang besar da rimbun, karena besar dan umurnya sudah tua maka pohon itupun rapuk dan berlubang bagaikan gua kecil, pohon itu tumbuh di tanah yang jauh dari pemukiman dan memang waktu itu pendudunya masih sangat jarang, sampai pada suatu hari ada sekelompok burung Betet sejenis kakak tua mengumpulkan gabah (buliran padi ) di lubang pohon itu sampai penuh hingga menyeruapi lumbung (tempat penyimpanan padi). Penduduk di sekitar pohon itu berdatangan untuk melihatnya. Setiap orang yang melihat tercengang melihanya keanehan sekelompok burung Betet yang bisa mengumpulkan padi sampai menyerupai lumbung. Akhirnya sejak saat itu penduduk sekitar menyebutnya daerah Selumbung. Lain halnya dengan Desa Opok.

B. Asal mula Nama Opok

Opok berasal dari kata opok-opok, opok-opok, opok-opok, bunyi dari ikan yang berlari di permukaan air. Mulanya Pada tahun 1628 Pasukan Sultan Agung Hanyokrokusumo Raja Kerajaan Mataram hendak menyerang penjajah Belanda di Batavia yang telah menguasai bangsa Indonesia sejak tahu 1596. Penyerangan dipimpin oleh Baurekso, namun penyerangan yang pertama gagal karena terjadi wabah penyakit. Pada tahun 1629, Sultan Agung kembali memerintahkan Pasukan Mataran untuk menyerang Batavia. Penyerangan ini dipimpin oleh Dipati Puger dan Dipati Purbaya. Sebelum penyerangan dilaksanakan persiapan dilakukan dengan baik, termasuk membangun lumbung-lumbung padi di sekitar perjalanan pasukan.
Semua prajuri diberangkatkan baik melalui jalur darat maupun jalur laut. Perjalanan darat ditempuh dengan berjalan kaki dan sebagian berkuda dengan menelusuri desa dan hutan serta memakan waktu yang cukup lama. Sepanjang perjalanan dari Mataram (Surakarta ) sampai Batavia banyak rintangan baik jalan yang dilalui maupun penduduk. Penduduk yang patuh dan tunduk dengan Belanda akan menghadang dan menghalau agar Pasukan Sultan Agung mengurungkan penyerangan ke Batavia, sedangkan bagi penduduk yang anti Belanda selalu memberi dukungan dan bantuan kepada prajurit di sepanjang jalan yang dilaluinya. Di samping itu rakyat yang loyal terhadap Sultan Agung menyiapkan gudang-gudang logistik di daerah Pemalang, Tegal dan perbatasan Jawa Barat. Namun rencana ini bocor ke tangan VOC dan akhirnya lumbung-lumbung padi tersebut dibakar oleh Belanda.
Perjalanan laut dilakukan dengan menggunakan perahu yang dikenal dengan nama perahu Kaladita. Perahu Kaladita dan perahu pengawalnya yang ditumpangi para prajurit itu melewati jalur laut kadang bersandar dari pantai satu ke pantai yang lain di sepanjang pantai Laut Jawa sambil meminta bantuan dan dukungan dari penduduk sekitar. Ketika sampai di pantai Kertosari, perahu Kaladita mengalami kerusakan akhirnya bersandar berhari-hari di pantai Kertosari dan sekitarnya. Setiap bersandar di pantai Kertosari, perahu selalu ditambatkan ( diikatkan) pada sebatang pohon Kepuh besar yang ada di tepi pantai ( letak sekarang di tanah sebelah barat makam petiran dan pangkal pohon itu sekarang masiha ada). Sambil memperbaiki perahu sebagian dari prajurit memancing ikan di laut untuk keperluan makan, akhirnya ikan besarpun didapat lalu dibakar, sebagian prajurit juga ada yang menyiapkan sambal untuk bumbu ikan. Setelah semuanya siap ikan dipecak di atas layah Besar / Sambelan (piring yang terbuat dari tanah liat), para prajurit beramai-ramai menikmati makan dengan lauk-pauk ikan bakar. Konon ketika mereka sedang asyik menikmati hidangan, tiba-tiba ombak menghantam perahu, sontak mereka terkejut karena Sambelan yang berisi ikanpun ikut terseret ke laut, namun anehnya ikan yang tinggal kepala dan duri itu hidup kembali dan berenang sambil mengeluarkan suara opok-opok,opok-opok,opok-opok. Kejadian aneh ini lansung dilaporkan kepada para penasehat, akhirnya mereka hanya berharap muda-mudahan ikan dan sisa sambal yang terjebur ke laut kelak bisa menjadikan bumbu ikan di sekitar laut ini. Atas do’a dan harapan para prajurit, sejak saat itu muncul sebutan daerah Opok yang ikanya memiliki rasa lebih gurih dibanding dengan ikan di desa lain. Sampai sekarang sebutan itu masih tetap melekat digunakan. Sedangkan sungai yang bermuara di tempat kejadian sekarang masih ada dengan nama Muara Sembilangan ( berasal dari Bahasa Jawa sambelan ilang ) atau Sambelan hilang.

C. Kertosari Tempo Dulu

Sebelum tahun 1900 desa Kertosari terbagi atas dua desa yaitu desa Selumbung dan desa Opok masing-masing memiliki kepala desa. Desa Selumbung dikepalai oleh Warmin dengan gelar Kertojoyo dan desa Opok dikepali oleh Ranyan dengan gelar Wonotirto. Istri keduanya kakak beradik berasal dari desa Bumirejo mereka berasal dari empat bersaudara pertama Sumyah Tua menjadi istri Kami tuwa (Bahu desa ) desa Bumirejo, kedua Rawen menjadi istri Tjatiban kepala desa Siceleng (sekarang Tasikrejo), ketiga Tasmi istri Warmin kepala desa Selumbung dan yang ragil Despah istri Ranyan kepala Desa Opok.
Sekitar tahun 1910-1925 kedua desa bergabung menjadi satu namanya menjadi desa Kertosari, setelah bergabung kedua kakak beradik berembug untuk menentukan siapa kepala desanya. Hasil rembugan menentukan bahwa kepala desa dipegang oleh Sang kakak yaitu Warmin dengan gelar Kertojoyo dan Ranyan menjadi Kami Tuwa ( Bahu Desa). Waktu itu pemerintahan desa dikendalian oleh penjajah Belanda.
Sekitar tahun 1925 Warmin berhenti karena usianya yang sudah tua, kemudian diadakan pemilihan kepala desa ala zaman itu dengan cara rakyat yang hendak memilih duduk di belakang calonnya, pemenangnya ditentukan oleh banyaknya pemilih yang duduk di belakang calon. Dari hasil itu Ranyan terpilih mejadi kepala desa dengan gelar Wonotirto. Pada waktu itu penduduknya Kertosari sangat rukun dan sudah menanamkan sistem demokrasi, antara Selumbung dan Opok merupakan kesatuan yang kokoh meskipun dibatasi oleh dukuh Blendung Wetan.
Setelah Warmin berhenti dari kepala desa beliau bersama tokoh agama yang lain merintis berdirinya masjid yang didirikan di tanah wakaf Bapak H. Idris . Mesjid yang baru berdiri langsung digunakan untuk kegiatan salat berjamaah baik salat fardlu maupaun salat Jumat bagi warga Kertosari baik dari dukuh Selumbung maupun Opok bahkan dari dukuh Blendung Wetan. Sekarang masjid itu masih tetap berdiri kokoh setelah melalui beberapa kali pengembangan dengan nama Masjid Al-Furqon.
Pemerintahan yang dipimpin Wonotirto berjalan hingga tahun 1942 saat Jepang memasuki negara Indonesia melalui berpropaganda manis kepada bangsa Indonesia. Jepang meyakinkan pada penduduk Indonesia bahwa Jepang adalah saudara tua Asia, Jepang pelindung Asia dan Jepang cahaya Asia, sehingga dengan tipu muslihatnya yang jitu itu rakyat Indonesia terkecoh dan membantu Jepang mengusir Belanda dari Indonesia. Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Jepang menguasai Indonesia kurang lebih 3,5 tahun, rakyat dibuat sengsara dengan sistem Rodinya, namun dibalik itu ada segi positif dari penjajah Jepang terutama cara mengatur air untuk pertanian dan penerapan disiplin kerja. Waktu itu di pantai Kertosari telah dibangun pemerintahan Jepang menara telepon yang digunakan untuk memantau jalannya air pertanian. Jepang menerapkan aturan bahwa air sawah harus sampai ke sawah yang ada di tepi pantai lebih dahulu, setelah sawah di pantai selesai ditanami padi dan telah terairi dengan baik, maka baru sawah di daerah tengah dan punggung dialiri air. Pada program kerjantara para pemuda waktu itu termasuk pemuda Kertosari banyak yang diberangkatkan sebagai tenaga kerja untuk keperluan Jepang dii Kalimantan, namun sistem yang baik itu hanya untuk keperluan yang sangat menguntungkan Jepang sedangkan rakyat Indonesia tetap sengsara.
Tahun 1943 Wonotirto berakhir masa jabatannya, kemudian diadakan pemilihan kepala desa dengan pengamatan pemerintah Jepang. Hasil Pemilihan kepala desadimenangkan Moh. Ali (Pak Ali ) dengan gelar Kertowijoyo.
Waktu itu di Kertosari sudah banyak orang yang pinter dalam bidang agama Islam salah satunya adalah KH Mahbub, beliau asli dari Padek yang menjadi menantu KH Amin. Waktu itu beliau mulai merintis pendidkan pondok pesantren dan memiliki santri yang cukup banyak baik dari desa Kertosari sendiri maupun desa tetangga bahkan banyak santri yang datang dari daerah pegunungan seperti Bodeh, Watukumpul, Belik dan sekitarnya, bahkan dari luar Pemalang untuk berguru menimba ilmu agama di pondok pesantren Beliau. Ketenaran dan kharisma Beliau dapat dirasakan oleh penduduk Kertosari dan skitarnya bahkan diakui sebagai Kiyai kabupaten oleh pemerintah kabupaten Pemalang. Santri warga selumbung saat itu sangat patuh terdadap agama, anak-anak kecilnya sudah dikenal ahli puasa terutama di bulan Romadan, tidak semua pemuda dari lain desa berani menikah dengan gadis Selumbung kalau tidak benar-benar menguasai ilmu agama takut tidak bisa diterima oleh calon mertuanya, benar-benar desa religius. Dari ilmu yang beliau ajarkan disebarluaskan oleh para santrinya baik di desa Kertosari sendiri maupun di daerah asal santri berguru dan para alumni pondok beliau mendirikan pondok dan TPQ di desa masing-masing hingga sampai sekarang perjuangan KH Mahbub masih dikenang meskipun beliau sudah wafat.
Pemerintahan berjalan lancar dengan kawalan penjajah Jepang hingga tahun 1945. tahun 1945 Bangsa Indonesia merdeka dan kepala desa masih tetap dipegang Moh. Ali. Namun Belanda diam-diam mengamati perjalanan pemerintahan baru Indonesia yang masih lemah dan mencari celah-celah untuk bisa memasuki kembali negara Indonesia dan menjajahnya kembali. tahun 1948 Belanda mengadakan Agresi militer, ingin menguasai wilayah Indonesia lagi dan berhasil menduduki Indonesia kembali. Pemerintahan yang dipimpin Moh. Alipun kacau dan semua pegawai yang waktu itu dipandang memihak pemerintah Republik disingkirkan termasuk kepala desa Moh. Ali, sehingga kepala desa waktu itu kosong karena Moh Ali menjadi buron Belanda, akhirnya kepala desanya dipercayakan kepada Masdan hingga tahun 1949. Namun pemerintah pendudukan Belanda yang kedua hanya berjalan satu tahun. Tahun 1949 Belanda dapat disingkirkan lagi oleh bangsa Indonesia dan Moh. Ali kembali menjabat kepala desa, namun tidak dengan pemilihan hanya dikukuhkan oleh para tokoh desa.
Penduduk Kertosari pada waktu itu sudah mulai tertata baik ekonomi maupun pendidikan terbukti meskipun waktu itu sudah berdiri Sekolah Rakyat (SR) Opok yang hanya memiliki dua ruang kelas tinggalan Belanda, dan hanya memiliki tiga kelas I, II, dan III sedangkan untuk anak – anak yang naik ke kelas IV harus berpindah sekolah di SR Kaliprau. Melihat kondisi yang demikian akhirnya Kepala desa merintis berdirinya madrasah di wilayah Selumbung.Bangunan dibuat menggunakan alat seadanya seperti pohon turi, bambu dan atapnyapun menggunakan daun welit (daun bulung sejenis aren). Pagi hari madrasah digunakan untuk murid SR yang sudah memasuki kelas IV, V, dan VI, sehingga waktu itu anak – anak yang naik ke kelas IV tidak lagi bersekolah di SR Kaliprau,sedangkan sore harinya digunakan untuk madrasah bagi anak-anak yang menghendaki, siswa madrasah waktu itu tidak hanya ana – anak Kertosari saja melainkan ada yang dari luar desa sepert Blendung, Pamutih, dan Kaliprausiwanyapun cukup banyak dengan diajar oleh ustad-ustad putra desa.
Di samping mdrasah Moh. Ali juga merintis keberadaan lapangan sepak bola bagi pemudanya, kegiatan ini disambut baik oleh semua warga sehingga lahir PS Sinar Laut. Pemerintahan Moh. Ali berakhir sampai tahun 1952. Tahun 1952 Kembali penduduk Kertosari mengadakan pemilihan kepala desa dan terpilih waktu itu H. Ashari ( Yunus ) menantu dari Warmin. Pemerintahan yang dipimpin H. Ashari berjalan lancar, aman dan rakyatnyapun sudah mulai maju baik pertaniannya maupun perdagangan terutama berdagang Kain belaco (mori) dan melati. Mereka sudah memperdagangkan dagangannya hinga ke Pekalongan dan Pekajangan. Pada waktu H. Ashari menjabat kepala Desa adik beliau KH Yusuf juga menggantikan posisi KH. Mahbub yang sudah tua menjadi nadlir masjid dan mengajarkan ilmu agama sehingga bertambah pula tempat untuk menimba agama di desa Kertosari waktuitu. Ketenaran dan kharisma dari bapak KH Yusuf juga dirasakan oleh masyarkat Kertosari dan sekitarnya bahkan wilayah kabupaten Pemalang terutama ilmu khisabnya dan beliau juga diangkat sebagai kiyai kabupaten Pemalang.
Setelah tidak menjabat kepala desa, sekitar tahun 1960 Moh. Ali menekuni pertanian dengan menanam melati gambir dan melati biasa di tanah pantai dukuh Opok. Selama bertani di dukuh Opok Moh. Ali bersama dengan kyai Samsuri, dan kyai Tabin merintis masjid di dukuh Opok dengan menghimpun warga di sekitar untuk salat berjamah dan salat Jumat di sebuah musola kecil yang sudah dirintis oleh KH.Abdul Latif (ayah dari kyai Samsuri) lebih dulu. Pada waktu itu di desa Kertosari hanya memiliki satu masjid dan letaknya di ujung selatan dukuh Selumbung,cukup jauh sekitar 3 km dari beliau bertani. Sekarang masjid yang tadinya berupa musolla berubah menjadi masjid besar yang dapat menampung jamaah 1.000 jama’ah dengan nama Masjid AT-TAQWA.
Awalnya pada tahun 1940 masjid yang dirintis Moh. Ali hanya berupa musola yang didirikan di tanah wakaf KH Abdul Latif. Keberadaan musola itu memberi inspirasi awal perkembangan agama Islam di dukuh Opok, di samping digunakan untuk salat berjamaah setiap malamnya digunakan untuk mengajar ilmu agama seperti mengaji, salat, dan ibadah lainnyadengan bimbingan KH abdul Latif.
Sekitar tahun 1950 karena faktor usia KH. Abdul Latif diganti oleh putranya Kyai Samsuri dan juga Kyai Tabin untuk meneruskan da’wah sang ayah dengan mengajar mengaji, salat pada generasi mudanya waktu itu. Peran musola waktu itu tidak hanya digunakan untuk ibadah saja tetapi diwaktu malam digunakan untuk tidur para santri di lingkungan musola itu karena mereka lebih senang tidur di musola dari pada di rumahnya sambil berjamah salat Subuh.
Sekitar tahun 1960 Moh. Ali mendirikan rumah di sebelah utara masjid sekaligus menjadi nadlir masjid. Sekitar tahun 1965 Kyai Samsuri berpidah rumah 400 m ke arah selatan dari arah masjid. Di tempat baruKyai Samsuri juga mendirikan musola yang sampai sekarang masih ada dan digunakan kegiatan da’wah oleh putranya KH. Ahmad Rozi.
Sekitar tahun 1970 Moh. Ali kembali ke dukuh asal yaitu Selumbung dan perjuangan da’wahnya diteruskan oleh Kyai Tabin dan putra Moh. Ali yaitu Kyai Hasan hingga tahun 1976. Tahun 1976 Kyai Hasan mengikuti program pemerintah pindah ke Sumatera, perjuangan da’wah diteruskan Kyai Tabin. Tahun ….. Kyai Tabin wafat, perjauangan da’wah dilanjutkan oleh KH. Ahmad Rozi hingga sekarang.

D. Kertosari di Masa Sekarang
Kertosari merupakan desa yang letaknya di pantai Laut Jawa yang terletak antara 6° LU dan 109° BT. Luas wilayahnya 1,8 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 4.050 jiwa, terdiri 2.050 laki-laki dan 2000 jiwa perempuan dan merupakan penduduk yang majemuk.Sekitar 40 % berasal dari luar desa Kerosari karena perkawinan. Mata pencaharian utama adalah nelayan dan pertanian, terutama bertanam melati, padi dan sebagian lagi polowijo. Pertanian melati desa Kertosari dapat menjadi sentral pedagang melati baik pedagang asli penduduk desa Kertosari maupun pedagang desa sekitar seperti dari desa Kaliprau, Blendung, Bumirejo, bahkan menjadi incaran pedagang dari daerah Batang, dan Weleri untuk di bawa ke pasar kembang kota Semarang karena melati Kertosari memiliki mutu lebih baik dibanding dengan melati di desa sekitarnya. Setiap bulan Sya’ban, Dhulhijjah, dan Maulud melati Kertosari juga menopang sekitar 1 ton kebutuhan bunga melati pasar Solo dan Bringharjo Yogyakarta setiap harinya. Mulai tahun 2010 bunga melati Kertosari juga dibutuhkan di pasar Ciputat Bogor dengan jumlah yang cukup besar, lebih dari 3 kwintal setiap sore melati dikirim melalui jasa pengiriman/bus jurusan Ciputat.
Semula bunga melati hanya dibutuhkan oleh pabrik teh untuk pengharum bahu dan rasa khas teh, namun karena adanya kebutuhan hidup manusia modern dan perkembangan tehnologi, bunga melati bisa dibuat minyak melati melalui fermentasi. Di samping menopang sebagian kebutuhan pasar kembang di kota-kota besar Jawa, melati Desa Kertosari juga mempunyai andil besar pada perdagangan Ekspor bunga melati melalui olahan yang dikenal dengan istilah ronce. Setiap hari para ekportir bunga melati meronce dengan berbagai bentuk. Roncenan yang juga dilakukan oleh tangan-tangan terampil penduduk Desa Kertosari mulai dari anak-anak hingga orang tua, bisa menambah penghasilan bagi warga Kertosari. Setelah menjadi ronce melati dimasukkan ke dalam bok dan diisi dengan es batu yang sudah dihancurkan kemudian dikemas dan di eksport ke negara Malaysia, Singapura, Hongkong, India, dan Thailand melalui Bandara Soekarno Hatta. Dengan demikian peranan melati Desa Kertosari sangan berarti bagi penduduk pada khususnya dan devisa negara pada umumnya. Selain penduduk Kertosari sendiri penduduk desa lain seperti penduduk Desa Kaliprau, Bumirejo, Pamutih ,dan Blendung banyak juga yang berminat menanam melati di Desa Kertosari dengan cara ada yang membeli tanah dan ada yang menyewa tanah dalam kurun waktu tertentu.
Batas wilayah sekarang meliputi :
1. Sebelah utara Laut Jawa;
2. Sebelah selatan Desa Bumirejo dan desa Pamutih;
3. Sebelah timur Desa Kaliprau;
4. Sebelah Barat Desa Blendung.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat Peta wilayah Desa Kertosari di sini

E. Penutup
Demikian sekelumit peristiwa yang pernah terjadi pada desa kami, semoga dapat bermanfaat bagi generasi muda sekarang dan masa yang akan datang.

TOKOH MASYARAKAT YANG PERNAH MENJABAT
KEPALA DESA KERTOSARI

1. Kertojoyo / Warmin
2. Wonotirto / Ranyan
3. Kertowijoyo / M.Ali (Th.1943-1948)
4. Masdan (Th.1948-1949)
5. M.Ali (Th.1949-1952)
6. Azhari (Th.1952-1975)
7. Aris Munandar (Th.1975-1988)
8. Subechi (Th.1988-1998)
9. Budi Karsan (Th.1998-2006)
10. Hasanudin (Th.2006-2009)
11. Joko Triyono (Th.2009-2015)

Fasilitas / tempat umum yang ada di Desa Kertosari :
* Lapangan = 1 buah
* Masjid = 2 buah
* Mushola = 12 buah
* SD = 2
* MI = 1
* PAUD = 2
* PKD ( Poliklinik Kesehatan Desa ) = 1
* Sarana air bersih ( umum ) = 6